Terdampar di Medan
Sudah hampir satu bulan saya berada di medan,tepatnya tanggal 5 juli 2011. Bukan untuk berlibur atau nemuin pacar, tetapi untuk menguras keringat. Ini kali pertama saya berkunjung ke kota yang berada hampir di ujung pulau sumatra. Sama sekali tidak kepikiran untuk sampai disini. Saya teringat pernah mengucap bahwa saya tidak mau bekerja di luar jawa, nah mungkin saat itu malaikat sedang membawa ipadnya dan mencatat perkataan saya. tapi mungkin kalau tidak begitu, saya tidak akan sampai disini. Maka nikmati saja yang ada, hitung – hitung sebagai perjalanan gratis. Tokoh utama yang membuat saya terdampar disini adalah kepala SDM kantor saya, maka saya ucapkan terima kasih kepada pak Yoga yang telah mengirim saya.
sebelum saya ke Medan sempat saya di ampirkan ke Pekanbaru, sebuah kota yang sangat asing bagi saya. Walau cuma satu malam disana tapi saya cukup menikmati kota tersebut.
MEDAN sebuah kota yang terdengar angker bagi saya, karena penduduk orang madan berasal dari batak. Orang batak terkenal dengan suara keras dan kasar, tetapi setelah saya disini, pemikiran itu hilang semua. banyak suku jawa yang telah lama bermusim disini. Suku jawa memang penjajah. apalagi d kantor hampir 80 % orang jawa, lebih tepatnya orang semarang. Maka tak butuh waktu lama untuk beradaptasi.
yang paling membuat saya pingsan kaget adalah lalu lintas disini. pertama kali tiba di Medan, atasan saya berucap “jangan kaget dengan lalu lintas di Medan, tetap ikuti peraturan yang perlaku layaknya anda di jawa”. Benar saja ketika keluar di jalan, lampu merah seakan buat pajangan saja, kita berhenti di lampu merah malah dapat makian dari orang. Kemana petugas pengatur lalu lintas ya? Ah entahlah yang penting Medan LUAR BIASA. HORAS BAH
terima kasih kuucapkan kepada teman – teman SMA Faizal Nitha Nurhid Fahmi Eka Yosi, terima kasih atas doa dan harapannya.




No trackbacks yet.